oleh

Prospek Obat Herbal untuk Terapi Kanker

Oleh: Nelsiani To’bungan

Slogan “Back to Nature” tentunya sudah sangat familiar di telinga kita. Slogan kembali ke alam dapat dimaknai beragam. Salah satu yang bersinggungan dengan hal ini adalah pemanfaatan obat herbal dalam terapi penyembuhan berbagai penyakit.

Apalagi negara kita dikenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah serta budaya minum “Jamu” yang melekat pada bangsa ini, sudah cukup mencirikan betapa dekatnya kita dengan alam.

Sehingga tidak heran jika di negeri kita klinik-klinik pengobatan tradisional yang mengklaim menggunakan obat herbal sebagai agen terapi, tumbuh subur bagaikan jamur di musim hujan.

Klinik-klinik pengobatan tersebut mengklaim tidak hanya dapat menyembuhkan penyakit-penyakit ringan, bahkan penyakit beratpun termasuk kanker diklaim dapat sembuh tanpa operasi.

Selain harga yang lebih miring, obat herbal juga digadang-gadang memiliki efek samping yang lebih ringan. Hal inilah yang menarik minat dan antusias masyarakat untuk mencicipi obat herbal sebagai salah satu usaha penyembuhan penyakit termasuk kanker.

Kanker adalah salah satu dari sekian banyak permasalahan dalam bidang kesehatan. Berdasarkan data WHO diketahui kanker adalah pembunuh terbesar kedua setelah penyakit jantung.

Beberapa cara pengobatan kanker yang telah dikembangkan adalah operasi, radioterapi, dan kemoterapi.

Pengobatan kanker tersebut menimbulkan banyak efek samping bagi pasien, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Efek samping tersebut terjadi akibat pengobatan yang tergolong tidak spesifik, dosis yang digunakan tidak efektif, penggunaan berulang obat yang menimbulkan efek resisten sampai penurunan sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga:  Kanker; Antara Momok Menakutkan dan Kelaziman

Ditambah lagi biaya yang tidak sedikit semakin menambah panjang keluhan-keluhan pasien. Oleh sebab itu pencarian metode pengobatan lain yang lebih efektif, efek samping sedikit dan biaya murah semakin diperlukan.

Pencarian metode pengobatan dapat dimulai dengan pendekatan etnobotani atau berdasarkan obat-obatan tradisional atau obat herbal yang telah dipercaya dan digunakan oleh masyarakat.

Pemanfaatan obat herbal untuk terapi kanker saat ini sebatas sebagai terapi komplementer. Penggunaan obat herbal sebagai terapi komplementer kanker umumnya adalah inisiatif penderita sendiri atau saran dari keluarga ataupun survivor kanker yang pernah punya pengalaman dalam pengunaan obat herbal.

Pada kenyatannya sudah ada hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa penggunaan obat herbal sebagai terapi komplementer kanker memberikan efek sinergis dengan terapi konvensional kanker.

Selain itu, hal yang belum banyak diketahui oleh masyarakat adalah 50 persen obat modern yang digunakan untuk pengobatan termasuk untuk terapi kanker, berasal dari bahan herbal.

Buah merah khas Papua misalnya, telah banyak diteliti dan terbukti berpotensi sebagai antioksidan dan antikanker. Potensi besar yang ada pada buah merah ini, membuat sari buah merah kini menjadi salah satu obat herbal popular dengan segudang khasiat.

Baca Juga:  Kanker; Antara Momok Menakutkan dan Kelaziman

Begitupula dengan kunyit putih, tanaman asli Indonesia ini telah diteliti sejak lama dan memiliki segudang manfaat, mulai dari antiperadangan, antioksidan sampai antikanker. Ekstrak kunyit putih bahkan juga telah dijual dalam bentuk kapsul kunyit putih yang praktis dan siap pakai.

Jika ditelusuri satu per satu, kita akan mendapatkan sejuta potensi herbal Indonesia yang berkhasiat untuk penyembuhan kanker. Tentunya ini adalah harapan besar untuk penggunaan obat herbal secara lebih luas.

Harapan besar ini juga harus terus didukung dengan penelitian-penelitian untuk mencari senyawa aktif (metabolit sekunder) lain yang berpotensi sebagai antikanker.

Senyawa alami ini dapat berasal dari tumbuhan, hewan maupun mikroorganisme. Harapannya penelitian-penelitian tersebut tidak hanya berhenti pada pencarian senyawa alami yang berpotensi, tetapi juga dilanjutkan ke tahap uji preklinis maupun uji klinis. Sehingga dosis, keamanan, efektivitas dan efek samping penggunaan obat herbal tersebut dapat terukur dengan jelas.

Jadi bukan tidak mungkin, suatu hari nanti tenaga medispun akan mulai meresepkan obat herbal sebagai salah satu metode terapi kanker.(***)

Penulis: Mahasiswa Program Doktor Biologi UGM

NEWS FEED