oleh

Pergulatan Hidup dalam Proses Pencarian Jati Diri

-Pena Opini-656 views

Oleh: Zulfikar Putra, SH., M.Pd

Tidak dapat dinafikan bahwa setiap orang menghendaki kehidupan yang mapan, mapan dalam perspektif masyarakat awam yakni memiliki penghasilan yang besar, memiliki rumah yang mewah, kendaraan yang mewah dan seabrek aset-aset yang lain yang menjadi jaminan hidup nyaman dihari tua. Namun terkadang, di temukan dikehidupan, semua yang di impikan tidak selamanya menjamin orang hidup bahagia dan tenang. Setidaknya keadaan tersebut pernah diungkapkan oleh orang yang telah menikmati fasilitas kehidupan yang Tuhan berikan, akan tetapi ketenangan dalam menjalani hidup tidak didapatkan. Teringat ungkapan seorang bijak,bahwa harta, pangkat/jabatan dan keluarga tidak menjamin kehidupan orang bisa tenang dan bahagia. Karena hakikatnya sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sumbernya dari dalam hati. Ketenagan hati dapat diraih jika senantiasa mengingat kepada sang pemilik hati (Tuhan). Olehnya ungkapan inilah yang menjadi bagian dari alat cambuk bagi penulis untuk tetap optimis, ditengah badai ujian, riak-riak masalah terselip sebuah keyakinan bahwa semua itu adalah bagian dari skenario Tuhan untuk mengajarkan hambaNya, bahwa Ia adalah sang pemilik dan penguasa segalanya.

Izinkan penulis, untuk berbagi kisah kepada para pembaca tentang perjalanan kehidupan penulis dalam menemukan makna keberartian diri. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keterbatasan dalam banyak hal, namun setidaknya apa yang pernah penulis alami yang nantinya dituangkan dalam tulisan yang sederhana ini, dapat kembali mengenang masa-masa yang lalu (memori) untuk dapat dipetik pelajaran yang harapannya bukan hanya untuk kebaikan penulis semata tetapi juga untuk pembaca budiman. In shaa Allah…

Proses Menemukan Kepercayaan Diri (Confident)   

Berawal dari masa sekolah, sebagaimana umumnya orang melewatinya. Ketika guru meminta siswanya untuk bertanya atau sekedar mengungkapkan sesuatu dari penjelasan yang telah disampaikan oleh guru, penulis termasuk orang yang pemalu (tidak berani menyampaikan pendapat didepan orang banyak). Sama halnya dengan berinteraksi dengan teman-teman sekelas atau teman sekolah, jika teman-teman yang  lain dapat berbaur dengan teman yang lainnya tidak hanya teman sekelas namun juga memiliki teman di kelas yang lainnya. Lain halnya dengan penulis, penulis hanya akrab dengan teman sebangku. Itupun hanya sebatas di sekolah. Hal tersebut berlangsung hingga tamat SMU (istilah sekolah menengah atas pada saat itu).

Setelah tamat SMU, penulis melanjutkan kuliah. Diawal-awal dimulainya perkuliahan, pribadi penulis yang interover masih terbawa diawa-awal semester pertama. Singkat kisah, setelah memasuki semester berikutnya penulis mulai membuka diri, mulai belajar untuk mengungkapkan pendapat di depan kelas. Keberanian itu muncul, ketika melihat orang-orang yang belum baik dari sisi argumentasinya, sisi retorikanya tapi dengan percaya diri namun mampu menyampaikan pendapatnya walaupun dengan ungkapan yang terbata-bata, dengan kondisi tersebut tidak menciutkan nyalinya untuk berbicara didepan kelas. Prinsipnya adalah tidak ada sesuatu yang diawali dari langsung mampu/bisa tapi berawal dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak bisa akhirnya menjadi bisa. Motto teman inilah sedikit banyaknya mempengaruhi alam bawah sadar penulis, untuk memulainya dengan serba keterbatasan yang dimiliki.

Sebuah Cita-cita

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, cita-cita menjadi bagian dari alasan seseorang untuk bersedia berkorban waktu, tenaga, pikiran, uang bahkan perasaan untuk menggapai obsesi (cita-cita) yang diinginkan. Penulis termasuk orang yang tidak muluk-muluk dalam bercita-cita, apapun yang penulis lakukan dalam rangka bisa membahagiakan orang tua dan bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut sudah cukup. Prinsip inilah yang sedikit banyaknya sangat berpengaruh terhadap ketidakmampuan merumuskan visi hidup, yang pada akhirnya ibarat seperti air yang mengalir. (berjalan sesuai dengan kodrat yang telah ditentukan oleh sang pencipta).

Setelah menjalani perkuliahan-perkuliahan semester awal hingga menjelang semester akhir, ada sebuah peristiwa yang menurut penulis itu menjadi awal sehingga pada saat ini penulis menjadi pendidik (dosen).Kisah itu berawal pada saat penulis mendapatkan nilai eror (E) menjelang akhir, yang saat itu mata kuliah yang diprogramkan (tawar) tidak lulus yang mengakibatkan tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu (4 tahun). Setelah ditelusuri, penyebab nilai eror yang didapatkan pada saat itu, karena dosen yang kebetulan dekat (setiap kegiatan kemahasiswaan senantiasa dilibatkan untuk membantu sebagai pendamping) dengan penulis memiliki hubungan yang kurang baik dengan dosen yang saat itu memberikan nilai eror. Setelah kejadian tersebut, terbersitt dalam hati penulis, semoga suatu saat kelak jika penulis diberi kesempatan menjadi seorang pendidik (dosen), tidak melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh dosen tersebut. Setelah kejadian tersebut, kurang lebih 4 (empat) tahun berselang, Allah SWT mengijabah (mengabulkan) bisikan hati penulis pada saat itu.  

Menjadi Pendidik (Dosen)

Tidak pernah terlintas dalam benak penulis, jika suatu saat nanti akan menjadi seorang tenaga pendidik (dosen). Sebab sosok pendidik di mata penulis sewaktu masih berada di bangku perkuliahan (menjadi seorang mahasiswa) bahwa untuk menjadi seorang dosen tidaklah mudah karena syarat yang harus dipenuhi adalah memiliki kemampuan public speaking (berbicara didepan orang banyak), disamping itu pula penguasaan kemampuan manajemen emosi  yang baik serta kemampuan menguasai micro teaching (kemampuan mengajar di kelas) yang tidak kala pentingnya.

Namun seiring waktu, situasi yang awalnya tidak pernah membayangkan apalagi sekedar terlintas dalam benak penulis. Tapi itulah takdir, dan hal ini bisa jadi merupakan bagian dari skenario Allah yang terbaik bagi saya menjadi seorang pendidik yang tidak hanya berusaha untuk memperbaiki orang lain tetapi juga berusaha untuk memperbaiki diri sendiri. Pertama kali memulai profesi menjadi dosen sejak tahun 2010, yang saat itu penulis tercatat sebagai dosen sesuai dengan Surat Keputusan Yayasan Insan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga Kepelabuhanan Kendari. Sejak disitulah penulis mulai belajar menjadi seorang pendidik (pengajar) dari yang tidak pernah sama sekali mengetahui hal-hal apa saja yang harus disiapkan sebagai seorang dosen untuk memulai proses perkuliahan. Mulai dari menyiapkan perangkat pembelajaran missal pembuatan silabus matakuliah, SAP yang saat ini berganti nama menjadi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sampai menyiapkan materi ajar.

Apalagi sewaktu awal mengajar, latar belakang pendidikan penulis adalah seorang sarjana hukum (SH) yang tentunya memiliki kesulitan tersendiri jika dibanding dengan seorang yang memiliki background (latar belakang pendidikan) dari sarjana pendidikn (S.Pd). Disamping itu pula matakuliah yang saya ampuh pada saat itu adalah matakuliah yang sebagian besar tidak sesuai dengan background yang saya miliki seperti matakuliah Disiplin Kepemimpinan, Diskusi dan Debat, Ceramah dan Pidato, serta Agama. Tetapi prinsip “dimana ada kemauan maka disitu ada jalan” menjadi motto penulis dalam menjalani proses menjadi seorang pendidik. Alhamdulillah, hingga saat ini penulis masih setiap menjalani profesi ini (menjadi seorang pendidik), walaupun tempatnya yang berbeda. Karena saat ini sudah berhomebase di Prodi PPKn Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka.

Pada umumnya, ada beberapa alasan atau motivasi seseorang ingin jadi seorang pendidik. Diantaranya yaitu :

  1. Ilmu merupakan hal yang tidak akan habis dan berkurang walau dibagi-bagi;
  2. Kebahagiaan tersendiri jika nanti melihat mahasiswa yang pernah diampu berhasil dan sukses;
  3. Ilmu merupakan sebuah investasi jangka panjang yang tak ada tanggal kadaluarsanya. (Dikutip dari link https:duniadosen.com diakses tanggal 6 Juli 2020 pukul 22.13 WITA)

Dinamika Pengelolaan Perguruan Tinggi

Jika menilik tentang potret pendidikan di Indonesia pada umumnya, maka kita perlu merenungkan kembali salah satu aspek yang mendasar dari sistem pendidikan kita yakni tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional telah ditetapkan mengenai tujuan pendidikan kita yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini yang mestinya menjadi fokus utama sistem pendidikan kita. Output pendidikan yang beriman dan bertakwa diharapkan memberi pengaruh secara nyata baik itu dari sisi etika, hukum, moral dan agama, bahkan dalam  ranah kerja dalam implementasinya di kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Perguruan Tinggi yang saat ini tempat dimana saya mengajar atau menjadi pendidik telah berkomitmen untuk berupaya memenuhi klasifikasi sebagaimana yang telah dimanatkan oleh Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini terwejantahkan dalam kurikulum yang terdapat di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  (PPKn) yaitu memuat matakuliah Pendidikan Nilai dan Kepribadian. Mata kuliah kepribadian merupakan matakuliah yang materinya lebih menekankan aspek moral peserta didik (mahasiswa). Selain aspek attitude (sikap) juga tentang nilai-nilai leadership (kepemimpinan) yakni bagaimana dapat mengelola diri dan mengelola orang lain serta organisasi.  Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh pendahulu kita yakni Bapak Ki Hajar Dewantoro “ Pendidikan yang hanya menekankan pada aspek intelektual saja akan menjauhkan anak dari masyarakatnya”.

Dinamika Mahasiswa

Dalam sejarah panjang di negeri ini, tidak dapat dinafikan bahwa peran pemuda menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Dimulai sejak tahun 1908 kemudian berlanjut di tahun 1928 hingga proklamasi kemerdekaan di tahun 1945. Pemuda menjadi salah satu bagian dari gelombang gerakan perlawanan dalam mengusir kolonialisme. Jika berbicara mengenai pemuda, maka unsur dominan yang ada di dalamnya adalah dari kalangan mahasiswa. Banyak istilah yang disematkan untuk mempersuasikan mahasiswa, diantaranya istilah  agent of change (pelopor perubahan), agent of control social (pengendali sosial), tapi lagi-lagi istilah yang disematkan oleh kalangan aktivis kampus bisa menjadi boomerang bagi mahasiswa itu sendiri jika kerja-kerja yang dilakukan mengalami stagnasi (jalan ditempat). Olehnya lahirnya kesandaran akan pentingnya peran-peran mahasiswa untuk dapat memberikan kontribusi merupakan keniscayaan, karena sesungguhnya mahasiswa merupakan bagian dari corong masyarakat senantiasa bersuara lantang mengkritisi kebijakan pemimpin/pemerintah yang tidak pro rakyat.

Jika mengamati dan mencermati fenomena yang terjadi pada mahasiswa saat ini, menimbulkan keprihatinan. Hal ini disebabkan karena orientasi sebagian besar mahasiswa hanya sebatas untuk bisa kuliah cepat, mendapat gelar kesarjanaan dan kemudian mencari kerja/melamar pekerjaan. Inilah yang mestinya menjadi bagian yang perlu diubah, mindset (cara berpikir)mahasiswa yang selama ini masih memandang bahwa menjadi seorang abdi negara (ASN) adalah sesuatu hal yang prestise (terhomat). Sedangkan diluar dari profesi tersebut (mis. menjadi seorang enterprener) belum menjadi sesuatu yang dilirik/diseriusi.

Suka Duka Menjadi Dosen

Menjalani profesi sebagai seorang pendidik (dosen) mengalami masa suka dan duka. Dari sinilah banyak pengalaman, pelajaran hidup yang diambil hikmahnya. Berbagai macam karakter orang yang dijumpai dari orang yang memiliki karakter pendiam, karakter yang tidak mau di atur, karakter cerewet/banyak bicara, menguji dosen serta mencari-cari perhatian yang kesemuanya itu menjadi bagian perjalanan yang tidak terlupakan. Disamping itu pula hubungan interaksi dengan sesama dosen juga punya cerita tersendiri, diawal-awal bergabungnya saya di Akademi Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga Kepelabuhanan Kendari bahwa perlakuan dosen (senior) yang sudah lama bergabung di AKPN Kepelabuhanan Kendari kurang baik. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa saya belum berpengalaman, belum banyak mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan akademik.

Namun seiring waktu, anggapan tersebut akhirnya berangsur-angsur hilang.  Begitu pula yang terjadi ditempat yang baru di Universitas Sembilanbelas November Kolaka, perjuangan dalam merintis program studi baru bersama kolega hingga akhirnya terbentuklah program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang saat ini telah menjalani tahun keempat setelah peresmiannya di tahun 2017. Yang tentunya pengalaman ini, menjadi bagian dari kisah pengalaman hidup yang penulis alami.,

Sebuah Renungan  

Seorang muslim tidak bertanya tentang apa yang ia inginkan bagi dirinya atau hidupnya. Namun seorang muslim akan bertanya tentang apa yang Allah SWT inginkan bagi dirinya. Seorang muslim tidak bertanya, “Saya ingin menjadi apa?” namun, seorang muslim bertanya, “Allah menginginkan saya menjadi apa?”

Keseluruhan kehendak Allah SWT tentang  bagaimana seharusnya seorang muslim menjadi, itulah yang kemudian kita sebut dengan model manusia muslim. Model manusia ini, dengan demikian selalu bersifat ideal. Akan tetapi, model kepribadian ini tidaklah menafikan fakta bahwa setiap manusia mempunyai keunikan-keunikan individual yang membedakannya dengan manusia yang lain. Fakta itu merupakan fitrah manusia Model manusia muslim berbicara tentang bagaimana seharusnya seorang menjadi, tetapi keunikan individualnya berbicara tentang manusia muslim sebagaimana ia adanya. Model manusia muslim berbicara tentang idealitas, sementara keunikan individual manusia muslim berbicara tentang realita keperibadiannya. Apa yang dilakukan oleh seorang muslim adalah mempertemukan antara kehendak Allah dengan kehendak dirinya, antara idealitas model manusia muslim dengan realitas keunikan individualnya. Itulah yang kemudian kita sebut dengan Konsep Diri. Kehendak-kehendak Allah SWT tertuang dalam sebuah desain model yang bersifat ideal, sementara realitas kepribadian kita adalah wadah untuk menyerap kehendak-kehendak Allah tersebut. Hasilnya adalah seorang muslim yang bernama Ahmad, atau Faisal, atau Bambang, atau Fatimah, atau yang lainnya. Di antara Ahmad, Faisal, Bambang dan Fatimah terdapat kesamaan umum dalam asal usul, visi dan misi, jalan hidup, dan nilai-nilai. Akan tetapi, mereka juga memiliki perbedaan dalam bahasa dan etnis, lingkungan dan budaya, postur tubuh dan warna kulit, bakat dan minat, kemampuan dan keterampilan, serta intelejensi dan kecakapan. Jadi, ada wilayah kesamaan dan ada wilayah perbedaan. Wilayah kesamaan itu adalah wilayah keisalaman kita, dan wilayah perbedaan itu adalah wilayah keunikan individual kita.

Wallahu ‘alam bis shawab….

Daftar Pustaka

Anis Matta, 2009. Delapan Mata Air Kecemerlangan. Tarbawi Press. Jakarta
Jamil Suprihatiningrum, 2013. Guru Profesional. Ar Ruzz Media. Jogjakarta
https:duniadosen.com diakses tanggal 6 Juli 2020 pukul 22.13 WITA.

PROFIL PENULIS

Zulfikar Putra, SH., M.Pd. Lahir di Baubau, 20 Juli 1982. Menyelesaikan jenjang S-1 pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau tahun 2006, S-2 Jurusan IPS Kosentrasi Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari tahun 2014. Saat ini bekerja sebagai dosen di Prodi PPKn Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka. Mengajar untuk matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Karakter, Pendidikan Pancasila dan Ilmu Negara.

Penelitian yang pernah dilakukan yang diusulkan di Penenilitian Dosen Pemula (PDP) Kemenristek Dikti yaitu: “Tinjauan Yuridis Upah Minimum Kota Terhadap Pekerja di Kota Kendari tahun 2016”. Adapun buku yang telah ditulis dengan judul “ Paradigma Membangun Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi” dan “Kepribadian Sebagai Suatu Ilmu”

Contact Person : 085241912429
Email : zulfikarputra2016@gmail.com
Website : secercahanharapan.blogspot.go.id

Komentar

NEWS FEED