PENASULTRA.COM,KOLAKA – Di balik seragam cokelat yang ia kenakan setiap hari, H Muslim menyimpan cita-cita besar yang jauh melampaui tugasnya sebagai anggota Polres Kolaka.
Jika polisi lain identik dengan patroli dan penegakan hukum, ia memilih jalan berbeda: membangun rumah ibadah dan pusat lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an.
Di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Watuliandu, Kolaka, mimpi itu mulai diwujudkan. Senin, 5 Oktober 2026, peletakan batu pertama Masjid Al-Iskandar dan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Imam Muslim digelar dengan khidmat.
“Hanya ingin menjadi orang yang selalu bermanfaat bagi manusia dan menghabiskan sisa-sisa umur ini untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik buat agama dan negeri,” ucap H Muslim dengan suara bergetar.
Kalimat sederhana itu menjadi alasan mengapa ia nekat membangun masjid dan pesantren dari keringatnya sebagai seorang polisi.
Pembangunan ini tidak sepi. Asisten I Pemkab Kolaka, Anggota DPRD Kolaka dari Fraksi PKS Bahana Alam Sultan, Kapolres Kolaka, hingga tokoh agama dan masyarakat datang memberi dukungan. Mereka menyaksikan bagaimana seorang abdi negara ingin meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu.
Bagi H Muslim, masjid dan pesantren ini bukan sekadar bangunan. Ia ingin melahirkan generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, menguasai ilmu agama dan IPTEK, serta siap menghadapi tantangan zaman.
Pesantren ini nantinya tidak hanya akan mencetak hafiz dan hafizah, tetapi juga membentuk jiwa pemimpin yang tangguh.
Yang paling menyentuh, ia menyiapkan beasiswa penuh bagi 100 dai dan tenaga pengajar di Kolaka hingga jenjang S1. Sebuah ikhtiar agar dakwah tidak berhenti karena keterbatasan biaya.
Di saat banyak orang mengukur kesuksesan dari pangkat dan jabatan, H. Muslim mengukurnya dari seberapa banyak manusia yang bisa ia bantu. Dari seragam polisi, ia kini membangun jalan menuju surga — untuk dirinya, dan untuk Kolaka.(red)
Sisa Umur untuk Agama dan Negeri: Polisi di Kolaka Bangun Masjid dan Pesantren Tahfiz












