oleh

Ritualisme Pendidikan

-Pena Opini-372 views

Oleh: Maolana Mohammad Sah

Suatu hari terlihat Ujange sedang menasehati anaknya yang telah melakukan kesalahan di pagi hari. Suasana itu pasti bercampur dengan kemarahan sehingga menciptakan suasana yang tidak nyaman dan penuh emosional.

Tapi tunggu dulu, Jangan fokus dengan sikap Ujange. Mari saya ajak di suatu kalimat yang Ujange katakan kepada anaknya “Untuk apa kamu sekolah jika tidak digunakan setiap hari?” Kalimat ini mengetuk pikiranku dan mengingatkan saya kepada seorang laki-laki setengah baya yang menegur anak-anak sekitar rumahnya karena membuang sampah sembarang tempat.

“Kenapa kalian buang sampah sembarangan, memang itu yang diajarkan di sekolah?” tanya pria itu kesal.

Kenapa dengan sekolah? Disini saya tidak menyalahkan sekolah atau orang yang bersekolah. Tapi di tulisan ini, saya bermaksud untuk mengetahui apa keuntungan atau manfaat kita bersekolah dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah Pancasila yang kita hafal di sekolah menghilangkan intoleran kita di masyarakat? Apakah mempelajari unsur kimia yang ada di sabun, menyebabkan kita bisa hemat menggunakan sabun? Atau apakah pembagian yang kita pelajari, membuat kita ringan tangan berbagi sama orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya tidak populer bagi kebanyakan orang saat ini,  karena sumbangsi pendidikan tidak memiliki efek atau manfaat untuk kehidupan mereka. Untung jika nilai dan makna pendidikan masih dirasakan di ruang kelas. Jangan sampai nilai dan makna  pendidikan seperti angin yang menghembus dan tidak memiliki bekas sama sekali.

Dugaan saya, pendidikan adalah ritual semata yang baru terasa jika kita mendapatkan hadiah akibat mendapatkan rangking/nilai bagus atau eks-mahasiswa yang sadar jika pendidikan mereka berguna ketika melihat lowongan pekerjaan di media sosial. Apakah pendidikan memang dirancang seperti begitu? Jika demikian benar. Apakah anak-anak yang tidak mengerti matematika disebabkan tidak adanya manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari? Membahas ini, saya merindukan teman saya waktu SMA dulu, namanya Asman. Dia salah satu teman saya yang pintar dan pernah bertanya kepada saya “Untuk apa menghafal perkalian jika ada kakulator, untuk apa kalkulus dan trigonometri dikehidupanku?”

Sekarang, mari kita lihat di media sosial, berapa banyak kasus kekerasan, bullying, diskriminasi, atau intoleran. Apakah para koruptor tidak memiliki pendidikan tinggi atau apakah ustad cabul yang di Bandung dan pendeta yang cabul di Surabaya tidak pernah belajar Kitab  Suci mereka? Harus kita sadar pendidikan tidak hanya terjadi di jejang pendidikan formal, namun pendidikan pun ada di dalam setiap ajaran agama.

Dalam Hadits Muslim dan Abu Daud, Rasul SAW pernah berkata akan ada kaum yang pandai membaca Al-Qur’an rajin shalat tapi memiliki akhlak yang buruk, mereka sesat dan menyesatkan.

Perkataan Rosul SAW merupakan dasarku mengatakan bahwa agama bukan hanya ritual yang hampa dan tidak memiliki makna. Agama adalah pendidikan Ilahi yang mengajarkan kita bukan hanya ibadah individual tetapi juga tentang ibadah sosial.

Oleh sebab itu, saya tidak yakin Allah SWT yang mengajarkan tentang tatacara masuk ke toliet, tapi diam tentang kedamaian dan amalan baik. Saya juga berharap kita tidak hanya sibuk mengenai posisi tangan ketika sholat, tetapi persoalan sosial, seperti: saling mengkafirkan, mencaci maki, mendiskriminasi, premanisme menjadi tidak kelihatan di mata kita.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan (Allah) kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Ankabut ayat 45)

Sabda yang mulia ini menjelaskan bahwa kita diharuskan mengerjakan dan mengingat shalat agar terhindari dari perbuatan keji dan mungkar. Tapi kenapa masih ada orang yang rajin shalat melakukan perbuatan keji dan mungkar, apakah ini manusiawi? Saya hanya takut “manusiawi” sebagai pelaziman perilaku iblis di diri manusia, seolah-olah Allah SWT akan memberikan kebijakan atas perbuatan itu.

Maha Guru saya pernah berkata di dalam buku Beliau yang berjudul “Halaman Akhir” : “Akan datang kepada manusia satu zaman, ketika tuhan-tuhan mereka adalah perut, kiblat mereka adalah seks; agama mereka adalah uang; kemuliaan mereka ada dalam kekayaan. Tidak tersisa dari iman, kecuali namanya; tak tersisa dari Islam, kecuali ucapannya; tak tersisa dari Al-Qur’an, kecuali pelajarannya. Masjid-masjid mereka ramai, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk….” Konon perkataan beliau diambil dari sabda Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaannya, apakah anak-anak yang belajar di sekolah hafiz memahami kadungan Al Qur’an dengan kritis. Sehingga mereka tidak mudah dirasuki pemikiran-pemikiran intoleran atau apa tujuan orang tua menyekolahkan anaknya disana. Apakah yang sekolah hafiz tidak melakukan perilaku bullying, premanisme, atau perilaku-perilaku negatif lainnya?

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Tuhan” (Matius 5:9)

Mari kita renungkan semuanya. Apakah tujuan kita menyekolahkan anak kita hanya mendapatkan pekerjaan, namun kemungkaran dan kekejian menyelimuti dirinya. Jadilah anak-anak Tuhan yang menyebarkan kedamaian dan berbondong-bondonglah melakukan kebaikan. Apakah itu lebih penting bagi kita yang masih hidup di dunia ini, tanpa mementingkan ritual saja. Apakah kita tidak yakin ibadah dan amalan baik yang kita lakukan dapat membawa kita ke sisi Allah SWT (surga).

Saya yakin segala ilmu memiliki nilai dan makna akan kebaikan serta kedamaian. Seharusnya orang yang berpendidikan dan beragama menjadi contoh bagi yang tidak mencicipi hal tersebut. Sangat ironis, jika ada orang tua sangat senang anaknya mendapatkan pekerjaan, tapi ketika anaknya menolong atau berbuat baik kepada sesama, tidak ada apresiasi yang mereka dapatkan. Jangan sampai anak-anak kita melakukan perbuatan sia-sia di sekolah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkait