oleh

Sampah Dapat Menekan Dampak Negatif

Pesona Kota Kendari

Oleh: Ikhsan Jamal

Beberapa bulan lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna mendapat sorotan dari masyarakat atas sampah yang bertaburan.

Tak sedikit pihak kembali menyalahkan pemimpin sebagai biang kerok pencemaran lingkungan, tapi banyak juga pihak yang dengan bijak mengatakan bahwa memang perlu ada perbaikan pengelolaan sampah.

Padahal, seluruh masyarakat pasti menginginkan dan mendambakan lingkungan hidup tempat tinggal mereka sehat dan bersih. Namun, semua itu sepertinya hanyalah mimpi.

Tentu saja itu semua hanya mimpi, karena dari masyarakatnya sendiri pun tidak pernah ingin menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka.

Untuk dapat mengatasi hal tersebut, hal pertama yang harus dilakukan masyarakat Kabupaten Muna adalah membenahi perilaku masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan.

Harus ada penegakan hukum yang jelas dan serius. Selanjutnya, harus ada perbaikan penanganan sampah, mulai dari pengumpulan dan pemilahannya, sehingga bahan baku untuk daur ulang menjadi lebih bersih dan dapat menguntungkan masyarakat.

Masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama untuk menjaga lingkungan serta tidak membuang sampah sembarangan lagi. Pemerintah membantu dalam menyediakan tong sampah.

Baca Juga:  Selama Ramadhan, Volume Sampah Kendari Meningkat 410 Ton Perhari

Tong sampah nantinya diperuntukkan untuk sampah organik dan sampah non-organik, agar masyarakat dapat memilah sampah-sampah yang akan mereka buang nanti.

Tujuan dari pengelolaan sampah adalah membuat sampah tersebut memiliki nilai ekonomi atau merubahnya menjadi bahan yang tidak membahayakan lingkungan. Dengan pengelolaan sampah yang benar, dapat membantu untuk menekan dampak negatif sampah terhadap lingkungan.

Jika saja sang armada Muna, Bupati Muna, LM Rusman Emba terlintas untuk mengkaji dari sisi keuntungan dalam mengelolah sampah mungkin tak akan timbul keresahan masyarakat apalagi mesti menutup hidung untuk menghirup udara.

Tengok sejenak dan belajar dari negara maju. Sejak 2012, Inggris telah mengekspor lebih dari 2,7 juta ton sampah plastik ke China dan Hong Kong.

Pelarangan impor sampah plastik oleh China pada akhir 2017 membuat Inggris dan banyak negara lain harus menjadi lebih serius menangani apa yang selama ini dianggap sebagai “sampah”.

Baca Juga:  Ali Mazi Minta "Kantor Peduli Lingkungan" Tidak Sekedar Slogan di DLH

Mereka sadar, bahwa sampah tersebut jika diolah dengan baik, akan menambah pemasukan negara, melalui prinsip circular economy.

Kita dituntut untuk mengembangkan sistem di mana mereka dapat menggunakan material tersebut selama yang mereka bisa (material recovery) dan mempertahankan material tersebut dalam perputaran ekonomi. Secara sederhana, circular economy adalah alternatif dari sistem ekonomi linear (produksi, penggunaan, pembuangan) yang bertujuan untuk menggali potensi dari setiap material semaksimal mungkin.

Konsep utamanya adalah meminimalisir bahan terbuang sehingga dapat mewujudkan ekonomi berkelanjutan. Belanda adalah salah satu negara yang menginisiasi prinsip circular economy, dengan target mereka dapat menghemat bahan baku melalui cara reduksi, daur ulang, biobased, dan sumber daya berkelanjutan.

Sehingga dari contoh tersebut dapat membuka cakrawala berpikir masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah di sembarang tempat dan masyarakat memiliki kesadaran untuk mengelolah sampah dengan baik.(***)

Penulis: Mantan Ketua Umum Komite Mahasiswa Penegak Keadilan FH UMI

NEWS FEED