oleh

BI: Dengan Metode MA-11, Petani Dapat Menekan Biaya Produksi

Pesona Kota Kendari

PENASULTRA.COM, KENDARI – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan panen perdana demontration plot (demplot) bawang merah dengan metode MA-11 di Desa Totallang, Kecamatan Lasusua Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) belum lama ini.

Kepala Perwakilan BI Sultra, Minot Purwahono mengatakan, hasil panen lahan demplot diperkirakan antara 1 ton benih menghasilkan 9 hingga 11 ton bawang merah.

Klaster bawang merah ini dimulai sejak 2017 lalu. Setelah pelatihan sistem pertanian teritegrasi metode Mikrobakteri Alfalfa MA-11 pada Maret 2018 ditindaklanjuti dengan pengembangan lahan percontohan (demplot) total organik berteknologi MA-11 pada tanaman bawang pada September 2018 dengan menggunakan bibit verietas bawang bali karet.

“Tujuan demplot ini, untuk menumbuhkan keyakinan dan merubah pemahaman petani yang selama ini beranggapan, budidaya bawang merah hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan pupuk kimia,” kata Minot melalui rilisnya persnya, 7 Desember 2018.

Baca Juga:  Rupiah Menguat Jelang Pemilu Serentak 2019

Jadi pengembangan demplot dilaksanakan pada Oktober 2018 dengan penerapan standar operasional prosesdur sesuai dengan MA-11.

Menurutnya, MA-11 merupakan metode bertani dengan menggunakan pupuk organik, yang bahan bakunya berupa kotoran dan urine hewan, air kelapa dan limbah pertanian lainnya yang diproses dengan mikrobater alfalfa (MA-11), yaitu mikroorganisme yg terdapat pd tanaman alfalfa.

“Hasil limbah pertanian yang difermentasi dengan mikroba ini jadi memiliki kandungan gizi yang sangat banyak. Tak heran hasil pertanian pun jadi melimpah. Tak hanya pupuk, pakan ternak pun dapat dicampur dengan MA-11 karena tidak mengandung bahan kimia,” bebernya.

Keuntungan menggunakan M-11, tambah Minot, biaya yang dikeluarkan petani akan berkurang karena mampu memproduksi pupuk secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku pupuk yang ada disekitar tempat tinggalnya.

Baca Juga:  1.525 Lembar Uang Palsu Dimusnahkan

“Jadi sebelum penerapan MA-11 saat panen raya dan stok berlimpah, harga bawang jatuh hingga menyentuh Rp5 ribu/kg. Akibatnya petani rugi karena biaya bercocok tanam dengan pupuk kimia jauh lebih besar. Tapi dengan metode MA-11 saat harga jatuh pun petani masih bisa memperoleh untung karena biaya produksinya sangat rendah,” jelasnya.

Ia berharap, upaya BI dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra dalam mendorong pemenuhan kebutuhan bawang merah dari produksi lokal ini dapat bermanfaat bagi petani sebagai pemasok bawah merah sehingga harga bawang di pasar juga akan lebih stabil.(b)

Penulis: Yeni Marinda
Editor: Kas

NEWS FEED