oleh

FPKP Desak Bupati Amrullah Copot Kadiknas Konkep

Pesona Kota Kendari

PENASULTRA.COM, KONAWE KEPULAUAN – Forum Pemerhati Kebijakan Pemerintah (FPKP) desak Bupati Konawe Kepulauan (Konkep) H. Amrullah untuk mencopot dua pejabat Diknas Konkep karena dianggap telah melakukan tindakan maladministrasi dan tidak profesional dalam pengelolaan program andalan Bupati dan Wakil Bupati Konkep program Beasiswa Cerdas Wawoniiku (BCW).

Kedua pejabat struktural Diknas Konkep itu masing-masing Kepala Dinas (Kadis) Diknas Muhammad Yani dan Kepala Bidang (Kabid) GTK Diknas, Suharmin.

“Bupati Konkep H. Amrullah harus mencopot dua pejabat Diknas Konkep tersebut. Jika tuntutan kami tidak diindahkan maka kami anggap bupati tidak profesional,” kata Yayan Rezkiawan melalui pesan WhatsAppnya, Selasa, 29 Agustus 2018.

Yayan menjelaskan, secara rinci data mahasiswa pelamar BCW tersebut khusus di Kecamatan Wawonii Barat berjumlah 224. Namun setelah dilakukan verifikasi oleh pihak Diknas setempat terdapat 18 berkas mahasiswa dinyatakan tidak lulus berkas. Sisanya 206 berkas saja yang lulus untuk Kecamatan Wawonii Barat.

Tetapi anehnya kata Yayan, pengumuman yang dikeluarkan Diknas Konkep bukan 206 berkas mahasiswa yang lulus melainkan berjumlah 220 berkas.

“Inikan aneh sekali dari 224 pelamar dikurangi 18 yang tidak lulus berarti sisah 206 saja yang lulus. Tetapi pengumuman yang dikeluarkan sebanyak 220 mahasiswa yang lulus berkas. Berarti ada 12 tambahan mahasiswa yang dilakukan pihak Diknas Konkep dan itu tidak melakukan pendaftaran baik secara online maupun manual,” tegas Yayan yang juga selaku panitia pendaftaran berkas BCW untuk Kecamatan Wawonii Barat.

Baca Juga:  Disperindagkop Konkep Gandeng Bank Sultra Gelar Pasar Murah

Dikatakannya, kesalahan serupa ia tidak hanya terjadi di Kecamatan Wawonii Barat saja tetapi di kecamatan lain juga terjadi hal serupa.

Menanggapi hal itu, Kadis Diknas Konkep Muhammad Yani mengatakan bahwa proses pengelolaan dan pencairan BCW telah melalui proses tahapan dan sudah sesuai prosedur yang benar dan terbuka.

“Tidak ada satupun yang kami sembunyikan atau yang kami tutup-tutupi,” ungkap Yani.

Sebenarnya, tambah Muhammad Yani, sangat berharap dengan terlibatnya mahasiswa di tujuh paguyuban dari 7 kecamatan se-Konkep itu membantu proses penerimaan berkas BCW. Sehingga kekurangan atau kelemahannya yang terjadi dari tahun ke tahun agar semakin berkurang.

“Ternyata semua itu tidak sesuai harapan bahkan tambah sembrawut. Karena ada oknum mahasiswa yang sok jadi pahlawan dan memaksakan untuk berkasnya diproses meskipun IPKnya tidak memenuhi sesuai yang disyaratkan,” ujarnya.

“Kalau pelayanan kami yang mereka tuduhkan maladministrasi, itu adalah sebuah statmen yang sangat keliru dan tidak bertanggungjawab. Tapi itu hal yang lumrah dan biasa terjadi bagi kelompok yang tidak puas,” sindirnya.

Baca Juga:  Soal Asrama Mahasiswa Wawonii, Ini Penjelasan Bupati Amrullah

Lanjutnya, ada dua alur proses penerimaan BCW di tahun 2018. Pertama melalui pendaftaran aplikasi online di web resmi BCW. Kedua melalui kelompok paguyuban mahasiswa masing-masing kecamatan.

Sambungnya, kedua inilah yang diverifikasi langsung oleh kelompok paguyuban mahasiswa yang menurut mereka datanya benar dan harus menerima beasiswa. Sementara hasil verifikasi dari tim verifikator Diknas Konkep data yang diserahkan panitia paguyuban tidak valid karena ulah beberapa orang mahasiswa yang ingin memanipulasi datanya.

“Para panitia paguyuban hanya menerima berkas manual dan menjadi operator pendaftaran online. Yang verifikasi itu dinas pendidikan bukan panitia paguyuban,” tukasnya.

“Sampai saat ini kami (Diknas) masih menerima pengaduan mahasiswa yang berhak mendapat beasiswa untuk lakukan perbaikan berkas paling lambat sampai 8 September 2018,” ulasnya.

Soal tuntutan mahasiswa untuk dicopot dari jabatannya sebagai Kadis Diknas Konkep, Muhammad Yani menanggapinya dengan santai.

“Yah itu hak mereka untuk meminta dan menilai. Saya hanya fokus bekerja sesuai dengan tupoksi saya. Soal jabatan itu adalah hak perioregatifnya bupati. Sebab yang namanya jabatan itu baik eselon IV, III, dan II tergantung dari pimpinan,” jelasnya.(b)

Penulis: Nanang Sofyan
Editor: La Basisa

Komentar

NEWS FEED