oleh

Jenis Tanaman Penghasil Karet dan Produk yang Dihasilkan

Pesona Kota Kendari

Oleh: Junaidi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari alat-alat berbahan karet, dari komponen kendaraan sampai mainan anak, dari alat kesehatan sampai perkakas dapur. Sebagian kita mungkin mengira karet untuk ban kendaraan sama dengan permen karet yang kita kunyah. Kenyataannya, beberapa tanaman menghasilkan karet jenis tertentu yang dikhususkan untuk bahan produk tertentu pula.

Berikut adalah beberapa jenis tanaman penghasil karet dan produk yang dihasilkan yang mungkin belum Anda ketahui.

Karet Brazil (Hevea brasiliensis)

Disebut juga karet para, adalah jenis tanaman yang paling umum dibudidayakan sebagai penghasil karet alam. Asalnya dari Brazil tapi banyak dikembangkan di Asia Tenggara. Indonesia memiliki 3,5 juta hektar lebih tanaman ini dan termasuk jajaran negara penghasil karet paling top sedunia.

Tanaman ini berbentuk pohon dan dipanen dengan cara disadap. Getah karet cair seperti susu, yang disebut lateks, diolah menjadi sarung tangan (gloves), balon, kondom, dan lain-lain. Karet yang menggumpal merupakan bahan baku industri ban, bantalan jembatan, alat konstruksi, dan banyak produk lainnya.

Di Indonesia, tanaman ini adalah komoditi perkebunan paling luas yang dibudidayakan setelah kelapa sawit.

Guayule (Parthenium argentatum)

Tanaman jenis ini tidak ditemukan di Indonesia, tanaman semak ini banyak dijumpai di selatan Amerika Serikat dan utara Meksiko. Semua bagian tanaman mengandung getah karet sehingga pemanenannya dengan cara dicabut dan diperas utuk mengeluarkan getahnya. Perusahaan ban terkemuka, Bridgestone mengembangkan tanaman ini sebagai alternatif bahan baku industrinya.

Baca Juga:  Pentingnya Olahraga untuk Kesehatan

Keunggulan tanaman ini dapat dibudidayakan di gurun dengan jumlah air yang minim. Selain itu, tidak seperti karet para yang mengandung protein tertentu sehingga dapat menimbulkan alergi kulit bagi sebagian orang, karet dari guayule bebas alergi sehingga banyak digunakan untuk alat-alat kesehatan seperti sarung tangan medis dan kateter.

Jelutung (Dyera costulata)

Tidak banyak penggemar permen karet yang tahu bahwa bahan dasar permen karet adalah getah tanaman jelutung, atau di Indonesia dikenal dengan nama jelutung rawa karena banyak tumbuh di daerah rawa berair. Pohon jelutung dapat tumbuh tinggi menjulang, dipanen dengan menyadap batangnya seperti pohon karet pada umumnya.

Selain getahnya, jelutung dibudidayakan untuk dipanen kayunya. Kayu jelutung memiliki karakteristik ringan dan mudah dibentuk sehingga banyak diolah menjadi pensil, bingkai foto, dan kerajinan tangan.

Karet Merah (Ficus elastica)

Siapa sangka tanaman yang sekarang banyak ditanam sebagai hiasan tadinya adalah penghasil karet skala industri. Sebelum ditemukan teknik memanen karet para yang dapat menghasilkan karet berlimpah, karet merah atau karet India adalah sumber karet alam utama.

Karet yang dihasilkan mirip dengan karet dari Hevea brasiliensis sehingga dapat diolah menjadi banyak produk turunan, salah satunya sol sepatu. Namun karena produksi karetnya sedikit, jenis karet ini tidak dikembangkan secara luas.

Gutta-percha (Palaquium gutta)

Tanaman gutta-percha berbentuk pohon. Bagian yang dipanen adalah daun dan ranting kecil yang digiling untuk mengeluarkan getahnya. Pada tahun 1800an, gutta-percha merupakan komoditas elit karena digunakan untuk pelindung kabel telegram bawah laut. Indonesia terkenal sampai ke Eropa karena gutta-percha yang diproduksi di kebun Cipetir, Sukabumi sampai sekarang.

Baca Juga:  Jangan Anggap Remeh Tipes

Sifat karet gutta-percha yang keras dan tahan lama menjadikan bahan ini sangat digemari untuk gagang pistol sebelum digantikan karet sintetis. Saat ini karet gutta-percha banyak digunakan untuk pembuatan bola golf.

Russian Dendalion (Taraxacum kok-saghyz)

Selama Perang Dunia Kedua, Jepang memblokade suplai karet alam dari Asia Tenggara. Saat itu, Uni Soviet dan Amerika mengggunakan tanaman dendalion sebagai bahan baku untuk ban kendaraan perang, menjadikan tanaman ini sebagai primadona. Setelah perang berakhir, karet para banyak tersedia di pasaran sehingga Russian dendalion seakan dilupakan.

Namun saat ini, negera-negara Eropa dan Amerika giat melakukan penelitian untuk menghasilkan varietas dendalion yang produksi getahnya bisa menyaingi karet para. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara penghasil karet salah satunya Indonesia. Meskipun masih dalam tahap prototipe, ban kendaraan dari karet dendalion dikabarkan memiliki kualitas lebih baik dari karet pada umumnya.

Itulah beberapa produk-produk yang dihasilkan dari beberapa jenis tanaman penghasil karet yang dirangkum dari berbagai sumber.(***)

Penulis merupakan mahasiswa Program Doktor, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan berprofesi sebagai peneliti di Pusat Penelitian Karet Indonesia
Corresponding e-mail: junaidi.sp5@gmail.com

NEWS FEED