oleh

Lagi, Komoditas Bahan Makanan Dorong Deflasi Sultra

PENASULTRA.COM, KENDARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) mencatat, April 2018, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami deflasi sebesar 0,16 persen (mtm). Secara spasial, Kota Kendari dan Kota Baubau mencatatkan deflasi masing-masing sebesar 0,16 persen (mtm) dan 0,14 persen (mtm).

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Sultra, Surya Alamsyah mengatakan, deflasi di Sultra pada periode ini masih lebih baik dari pencapaian nasional. Sebab, pada saat bersamaan nasional justru mencatatkan inflasi sebesar 0,10 persen (mtm) atau 3,41persen (yoy).

Menurutnya, kelompok volatile food (VF) atau bahan makanan dan kelompok inflasi inti kembali memberikan andil bulanan terbesar kepada deflasi Sultra, ditengah meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok administered price sebesar 0,52 persen (mtm).

Kelompok komoditas VF bergejolak, mencatatkan deflasi sebesar 1,09 persen (mtm). Secara umum, deflasi dari kelompok VF masih didorong oleh penurunan harga bahan makanan terutama pada sub kelompok komoditas jeni ikan segar, sayur-sayuran dan beras.

“Untuk ikan utamanya pada ikan ekor kuning, kembung, layang, cakalang, dan baronang yang banyak digemari oleh masyarakat. Untuk sayur-sayuran yang mencatatkan deflasi diantaranya sawi hijau kacang panjang, kangkung, dan jantung pisang. Sedangkan, komoditas beras yang kembali mencatatkan deflasi seiring dengan panen raya yang berlangsung di sentra produksi beras Sultra,” kata Surya melalui rilisnya, Rabu 2 Mei 2018.

Baca Juga:  Gubernur BI Serahkan Mandat KPw BI Sultra kepada Suharman Tabrani

Sedangkan, kata Surya, deflasi yang lebih dalam pada kelompok VF tertahan oleh inflasi pada sub kelompok komoditas bumbu-bumbuan, utamanya pada komoditas bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.

“Deflasi juga terjadi pada kelompok inflasi inti di Sultra yang tercatat sebesar 0,05 persen (mtm). Ini didorong oleh komoditas air minum kemasan, telepon seluler dan peralatan dapur. Tertahan oleh inflasi yang terjadi pada komoditas emas dan sandang wanita. Kenaikan harga emas yang terjadi di pasar dunia turut mendorong kenaikan harga pada komoditas emas perhiasan khususnya di Kota Kendari,” ujarnya.

Sementara itu, tambah Surya, peningkatan tekanan inflasi pada kelompok administered price terutama didorong oleh inflasi yang terjadi pada komoditas rokok putih, rokok kretek filter, bensin, dan angkutan udara.

“Kenaikan harga rokok utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan cukai rokok. Sementara inflasi komoditas bensin disebabkan oleh penyesuaian harga jual bensin non subsidi (Pertalite dan Pertamax) yang dilakukan oleh Pertamina sebagai dampak dari kenaikan harga minyak di pasar dunia. Sedangkan pada komoditas angkutan udara didorong oleh penyesuaian rute penerbangan oleh beberapa maskapai,” bebernya.

Baca Juga:  BI Gelar Pelatihan Urban Farming

Menyikapi perkembangan terkini dan memperhatikan risiko ke depan, utamanya menyongsong bulan Ramadhan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra telah melakukan sidak pasar yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi dalam rangka antisipasi kenaikan harga.

Dalam rapat tersebut, lanjut Surya, telah diputuskan beberapa hal di antaranya meminta semua pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan harga komoditas strategis dengan mengacu pada harga eceran terendah (HET), menyelenggarakan pasar murah, dan meminta para distributor untuk melaporkan stok yang dimiliki guna memastikan ketersediaan di pasar.

“Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk menjaga inflasi Sultra berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional di tahun 2018 sebesar 3,5 persen ± 1 persen (yoy),” tutupnya.(b)

Penulis: Yeni Marinda
Editor: Ridho Achmed

Komentar

NEWS FEED